TERAPI PRILAKU

Terapi perilaku sebagai metode yang dipakai untuk mengubah perilaku atau dalam arti umumnya sebagai salah satu teknik psikoterapi, menurut Corey terdiri dari 3 tahap:

  1. Tahap pertama adalah tahap kondisioning klasik pada mana perilaku yang baru, dihasilkan dari individu secara
  2. Tahap kedua adalah tahap kondisioning aktif, dimana perubahan-perubahan di lingkungan yang terjadi akibat sesuatu perilaku, bisa berfungsi sebagai penguat ulang.
  3. Tahap ketiga adalah tahap kognitif. Sebagaimana diketahui bahwa munculnya terapi perilaku dengan cirri-ciri khas yang bertentangan. Menurut Franks yang dikutip oleh Corey bahwa terapi kognitif behavioristik sekarang berkembang sebagai bagian dari aliran terapi perilaku. Terapi perilaku yang tidak dibedakan dengan terapi pengubahan perilaku.

Corey merumuskan karakteristik pendekatan behavioristik antara lain sebagai berikut:

  1. Terapi perilaku didasarkan pada hasil eksperimen.
  2. Terapi ini memusatkan terhadap masalah yang dirasakan pasien sekarang ini dan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi.
  3. Terapi ini menitikberatkan perubahan perilaku yang terlihat sebagai kriteria utama
  4. Terapi perilaku merumuskan tujuan terapi dalam terminologi konkret dan objektif, agar memungkinkan dilakukan intervensi untuk mengulang apa yang pernah dilakukan.
  5. Terapi perilaku pada umumnya bersifat pendidikan.

TEKNIK TERAPI PERILAKU

  1. RELAKSASI

      Keadaan relaks adalah keadaan pada mana seseorang berada dalam keadaan tenang, dalam suasana emosi yang tenang, tidak sebaliknya yakni misalnya tegang atau bergelora. Jacobson membuat teknik relaksasi yang disebut sebagai teknik atau latihan relaksasi progresif, untuk membawa seseorang sampai ke keadaan relaks pada otot-ototnya. Johannes Schultz, memperkenalkan teknik pasif agar seseorang dapat menguasai munculnya emosi yang bergelora yang dikenal sebagai latihan otogenik.

  1. PENGEMBALAN SISTEMATIK

      Wolpe melakukan penelitian dengan mempergunakan kucing sebagai hewan percobaan. Dengan teknik pemberian rangsangan secara bertahap maka dipakai istilah “sistematik”. Dimulai dari hal yang masih diterima, tidak menimbulkan kegoncangan atau perasaan takut, cemas, kemudian rangsangannya ditingkatkan secara bertahap, sampai kerangsangan yang seandainya diterima sekaligus, akan menimbulkan reaksi negatif.

  1. LATIHAN ASERTIF

      Latihan asertif atau latihan keterampilan sosial adalah salah satu dari sekian banyak topik yang tergolong populer dalam terapi perilaku. Perilaku asertif adalah perilaku antar perorangan yang melibatkan aspek kejujuran dan keterbukaan pikiran dan perasaan. Perilaku asertif ditandai oleh kesesuaian sosial dan seseorang yang berperilaku asertif mepertimbangkan perasaan dan kesejahteraan orang lain. Dari uraiaan ini terlihat bahwa perilaku asertif adalah perilaku yang menunjukan adanya keterampilan untuk bisa menyesuaikan dalam hubungan interpersonal, dalam lingkungan sosial.

  1. PENIRUAN MELALUI PENOKOHAN [MODELING]

      Ada beberapa istilah yang muncul sehubungan dengan prosedur penokohan ini, ialah: penokohan, peniruan dan belajar melalui pengamatan. Dari beberapa istilah ini, istilah penokohan merupakan istilah umum untuk menunjukkan terjadinya proses belajar melalui pengamatan dari orang lain dan perubahan yang terjadi karenanya melalui peniruan.

  1. Penokohan yang nyata, contohnya terapis yang dijadiakan model oleh pasien atau klien.
  2. Penokohan yang simbolik adalah tokoh yang dilihat melalui film, video atau media lain.
  3. Penokohan ganda: seorang anggota dari satu kelompok mempelajari suatu sikap dan mengubah sikapnya dari apa yang diamatinya/dipelajarinya dari satu kelompok tersebut.
  1. PENGUASAAN DIRI [SELF-CONTROL]

      Melalui pendekatan penguasaan diri, pasien atau klien dimungkinkan memiliki pegangan untuk menghadapi masalah. Pada kategori pertama, terapis membantu pasien atau klien mengurangi kemungkinan terjadinya perilaku yang merugikan diri sendiri. Sedangkan pada kategori kedua, terapis menambah atau meningkatkan kemungkinan-kemungkinan untuk memperlihatkan respon misalnya masalah belajar pada pelajar. Salah satu cara ialah dengan memberi hadiah kepada diri sendiri karena ia berhasil tidak terlibat dalam keinginan yang berlebihan.

      Srategi umum dalam program penguasaan diri, yakni memperkuat perilaku yang diinginkan dan memperlemahnya dengan perilaku yang bertentangan yang tidak diinginkan.

DAPUS :

 Singgih D, Gunarsa.2007.Konseling dan Psikoterapi.Jakarta:PT BPK Gunung Mulia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s